Indonesia kelebihan pasokan semen, di sisi lain impor aspal Indonesia untuk kebutuhan jalan masih tinggi. BUMN produsen semen mendorong agar pemerintah memaksimalkan semen sebagai bahan pembuat jalan.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengungkapkan langkah yang akan dilakukan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) untuk menjadikan semen sebagai bahan baku pembuatan beton dapat menekan oversupply semen yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir di industri dalam negeri.
Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan inisiatif tersebut langsung dikeluarkan oleh perusahaan semen pelat merah ini sebagai bagian dari re-branding dan antisipasi pengembangan bisnis perusahaan ke depan.
"Mereka [Semen Indonesia] juga mendorong pemakaian semen untuk jalan, nggak pake aspal, jadi bisa turunkan impor aspal karena kita surplus semen. Itu inisiatif Semen Indonesia," kata Arya di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (11/2/2020).
Selama ini kebutuhan aspal misalnya, Indonesia masih mengandalkan impor dari negara lain. Direktur Pemasaran & Supply Chain Semen Indonesia Adi Munandir, sempat mengungkit hal ini di sela acara corporate rebranding Semen Indonesia.
"Sudah di-declare akan ada tambahan 2.000 km jalan tol baru, ada tambahan 2.500 jalan nasional, 25 bandara baru. Tantangannya begitu besar. Tapi sayangnya tidak semua kebutuhan bisa kita penuhi," ujarnya di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta, Selasa (11/2/20)
Untuk kebutuhan infrastruktur jalan misalnya, dia menyebut Indonesia masih harus impor aspal dengan porsi 71% dari total kebutuhan. Artinya, hanya sebagian kecil saja kebutuhan aspal yang bisa dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.
"Aspal dan beton bisa saling men-substitusi. Jalan menggunakan aspal harus impor 71%, kalau kita ubah dengan beton, beton punya kemampuan kekuatan lebih panjang, setiap tahun tidak perlu dilakukan perbaikan major seperti aspal," kata Adi.
"Bayangkan, kita harus impor US$ 421 juta di 2018. Sebanyak 56% dari konsumsi tersebut adalah untuk road maintenance, untuk perbaikan jalan," tambahnya.
Produksi semen Indonesia memang sedang berlebih, dari kapasitas produksi sekitar 100 juta ton per tahun, produksi yang terserap kebutuhan hanya 60-70% per tahun.