SujaNEWS.com — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga tokoh Nahdlatul Ulama Mahfud MD menyatakan bahwa LGBT berbahaya dan menjijikkan.
“LGBT itu berbahaya dan menjijikkan, tapi penanganannya tak perlu pengawalan Brimob,” tulisnya melalui akun Twitter @mohmahfudmd.
Pernyataan itu membuat sewot tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ahmad Sahal. Ia menyebut pernyataan itu tidak manusiawi.
“Bilang LGBT “menjijikkan” itu bukan manusiawi, tapi hujatan. Manusiawi itu menerimanya sebagai manusia, meski tak setuju,” tulisnya melalui akun Twitter @sahal_as.
Ia pun membawa nama KH Abdurrahman Wahid sebagai tameng.
“Kalo Gus Dur masih ada, pasti tak akan menghujat LGBT sebagai ‘menjijikkan dan membahayakan”, meski Gus Dur tak setuju,” tambahnya.
Ketika ‘diserang’ dengan mengatasnamakan HAM, Mahfud MD yang dikenal sebagai pakar konstitusi pun menjelaskan: “HAM tak selalu mutlak-universal. LGBT bertentangan dengan nilai ketuhanan, moralitas, dan budaya Indonesia. Pasal 28J (UUD).”
Meskipun diserang oleh akun-akun seperti @sahal_as, Mahfud MD mengaku tidak takut.
“Ya, satu dua saja yang ngebully, tapi ratusan yang mendukung karena yang saya sampaikan lebih manusiawi dan Indonesiawi. Siapa takut?” tulisnya menanggapi informasi @SuaraSocmed bahwa Mahfud MD dibully akun-akun pro LGBT.
“Sejak dulu saya tak pernah takut dibully. Track saja di semua medsos. Pembully hanya 0,01 % dibanding pendukung. Rasional saja,” tambah Mahfud MD. [Ibnu K/Bersamadakwah]
“LGBT itu berbahaya dan menjijikkan, tapi penanganannya tak perlu pengawalan Brimob,” tulisnya melalui akun Twitter @mohmahfudmd.
Pernyataan itu membuat sewot tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ahmad Sahal. Ia menyebut pernyataan itu tidak manusiawi.
“Bilang LGBT “menjijikkan” itu bukan manusiawi, tapi hujatan. Manusiawi itu menerimanya sebagai manusia, meski tak setuju,” tulisnya melalui akun Twitter @sahal_as.
Ia pun membawa nama KH Abdurrahman Wahid sebagai tameng.
“Kalo Gus Dur masih ada, pasti tak akan menghujat LGBT sebagai ‘menjijikkan dan membahayakan”, meski Gus Dur tak setuju,” tambahnya.
Ketika ‘diserang’ dengan mengatasnamakan HAM, Mahfud MD yang dikenal sebagai pakar konstitusi pun menjelaskan: “HAM tak selalu mutlak-universal. LGBT bertentangan dengan nilai ketuhanan, moralitas, dan budaya Indonesia. Pasal 28J (UUD).”
Meskipun diserang oleh akun-akun seperti @sahal_as, Mahfud MD mengaku tidak takut.
“Ya, satu dua saja yang ngebully, tapi ratusan yang mendukung karena yang saya sampaikan lebih manusiawi dan Indonesiawi. Siapa takut?” tulisnya menanggapi informasi @SuaraSocmed bahwa Mahfud MD dibully akun-akun pro LGBT.
“Sejak dulu saya tak pernah takut dibully. Track saja di semua medsos. Pembully hanya 0,01 % dibanding pendukung. Rasional saja,” tambah Mahfud MD. [Ibnu K/Bersamadakwah]
